Best Uncle Ever

ada apa dengan Uncle? yaaa, alias paman alias om alias mamang what ever lah itu.
dia seorang paman yang mempunyai jasa sangat besar dalam hidupku. hidup ketika aku mulai memasuki gerbang Pesantren Husnul Khotimah. tahun pertama, tahun kedua, tahun ketiga aku masih belum menyadari besar pengorbanan yang ia kerahkan untuk keponakannya.

sampai pada tahun terakhir, semua mulai terasa satu persatu. bermunculan membuat aku menyadari banyak pengorbanannya untukku.
dulu, zaman masih jadi santri. sebulan sekali aku mendapatkan kiriman yang tidak mesti uang, lebih sering satu dus makanan atau satu kantong plastik besar berisi makanan. semuanya nenek atau emihku yang menyiapkan untuk cucunya, kemudian di antar oleh om ku. setelah emih wafat, bibiku istri dari om ku yang tidak lain adalah adik mamah lah yang menjadi pengganti, mengirimkan makanan dan kebutuhan.

masih sangat teringat. ketika aku ada acara kumpul bersama dengan teman-teman satu angkatan di Cidomba. pagi itu hujan sangat deras, tapi aku bilang pada om ku ingin ikut ke Haka. dulu kendaraan yang dia miliki hanya motor dinas milik pabriknya, bukan kuda baja yang bisa mengangkut banyak penumpang seperti yang sekarang sudah ia miliki. bayangan, bagaiman ia melindungi ku dari derasnya hujan, padahal sudah jelas 75% yang aku kenakan basah dan ia harus berkonsentarsi dengan stir motornya.

pada tahun terakhir, beberapa dari teman satu angkatan mengalami demam secara bersamaan. aku termasuk di dalamnya. dan aku sangat menginginkan pulang. siapa lagi yang dekat saat itu, yang mengantar aku periksa dan berobat? yes, he is. si Om.

tidak sampai disitu.
adikku ku pun mengalami banyak pengorbanan yang Om kerahkan. dan ini sangat terasa, sangat mudah untuk dilihat.
keadaan financialnya semakin membaik, sudah memiliki kendaraan yang bisa mengangkut banyak orang. membuat ia memberi kemudahan untuk orang lain lebih sering. tak terkecuali untuk aku, adikku, serta kaka iparnya mamah dan bapakku.

entah berapa banyak kebaikan yang ia lakukan untuk adikku saat dia berada di Pesantren juga, di Binaul Ummah. yang jelas itu sangat sangat banyak dan sangat sangat terasa.

dan bagian yang sangat mengharukan bagiku adalah, pada tanggal 2 agustus 2015 kemarin. saat dimana aku berubah status. Om Ajum, Bi Cicih, Naufal, dan Nabil berjalan ke arah kami. mengucapkan selamat dengan tangis haru dan bahagia. tangisku pun pecah mencoba menahannya.

ke esokan harinya, setelah ashar mereka sekeluarga akan pulang ke kuningan. mereka yang terakhir meninggalkan kediaman orang tua ku.
ada ucap maaf dan terimakasih dari orang tuaku untuk mereka, dan mereka juga melakukan hal yang sama. ada ucapan si om yang selalu membuat aku terngiang dan sedih bercampur bahagia.

dia menyebut nama mu, " ... titip egi yaa. buat om egi sama debi udah kaya anak sendiri. khususnya buat egi yang udah berubah status. om waktu itu merasa kehilangan karena ga pernah belok lagi ke Husnul. sekarang tambah kerasa lagi karena debi udah selesai di BU, ga ada yang bisa om tengokin lagi, ga ada yang bisa om anterin makanan lagi, ga ada yang bisa om jemput lagi ..." semua tertunduk mengalirkan air mata masing-masing
sikapnya yang tak pernah mengeluh akan lelah membuat aku semakin mengaguminya.
karena itu aku menyebutnya,
The Best Uncle ever. yeah, I mean Ever!



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Periksa ke dokter Fetomaternal dan Infus Venofer

one direction

Dosen kami itu …