maaf dan terima kasih



Hujan deras menemani perjalanan menuju Depok. Menerobos hujan, juga jalan yang dipenuhi genangan, sandal atau sepatu siapapun basah. Langit margonda sore itu memberiku banyak arti, entah ia tak setuju dengan apa yang aku lakukan, atau isyarat akan kesedihan seseorang.

Entah dari buku yang pernah dibaca, atau film yang pernah ditonton, “ perempuan dan laki-laki itu tidak bisa menjadi teman” aku tertawa, menertawakan hal itu.
Sudah berapa lama ya kita berteman? Lima tahun kah? Atau lebih? Menemukan sosok teman yang kemudian menjadi dekat dan sangat dekat bisa dibilang.

Apa aku mewarisi sifat mama? Yang mana teman-teman dekatnya lebih banyak laki-laki. Entah, yang jelas aku mengakui bahwasannya memang ga ada judulnya perempuan dan laki-laki itu berteman. Ngerasa nyaman aja berteman sama laki-laki, aku juga punya temen deket perempuan tapi tetep keduanya punya perbedaan. Aku berpikir panjang untuk menulis ini, antara menjaga perasaan juga mengabadikan yang ada.

Ada hal yang tak bisa ditutupi, dan memang harus ditegaskan untuk orang-orang di sekelilingku. Sekalipun itu teman dekat. Bagiku, mengatakan hal itu sangatlah tidak mudah. Tapi aku harus mengatakannya, memberitahukan kebenaran yang perlu diketahui. Mungkin aku yang bodoh tak bisa melihat bagaiamana reaksi setelah itu, aku terlihat menganggap memang tidak ada apa-apa.

“kau akan datang kan?” memastikan
“iya dong, pasti insya Allah” terlihat mantap akan jawabannya
“bener ya?” lagi memastikan
“iyap, kan gue mau makan banyak disana”

Langit sudah gelap, namun masih ada yang mengganjal sepertinya. Sepanjang  perjalanan kereta, mungkin sedang menimbang perkataan yang seharusnya dikatakan dari jauh-jauh hari.

“berarti aku telat ya?”
“ha? Iya, kamu telat!”
Tak mampu melanjutkan, mungkin sedang mencari kesibukan lain.
Saat itu yang ada, sesak menyelimuti, pertanda tangis akan segera mengikuti. Tapi ia seperti masih tertahan tak mau keluar, dan saat aku menemukan

“ ada bahagia campur lemes meyaksikan perempuan yang pernah dekat dengan kita, satu persatu menikah dengan orang lain. Entah dulu sebagai teman, teman dekat, ataupun teman sangat dekat. Mungkin laki-laki memang harus lebih bersabar”

Tak bisa berucap,
Maaf dan terimakasih :)


antara margonda dan pasar minggu





Komentar